Yang Abadi di Imogiri (3): Seikhlasnya Tapi Minimal Rp100 Ribu
April 28th, 2009

Weni, rekan wartawan yang menjadi kontributor majalah saya di Yogyakarta juga ditawari semacam ”jimat”. Tapi bukan dari kayu, tapi helaian ”Daun Tujuh Warna”. ”Yang sudah lama tidak punya anak, Insyallah bisa dengan daun ini”, kata Si Mbah. Tidak seperti jimat yang baru ditawarkan Si Mbah di atas. Sejak menapaki tangga pertama, Si Mbah sudah menyinggung soal daun ini.
Metodenya mirip-mirip anggota MLM. Membuka obrolan dengan Weni yang tadinya ia sangka istri atau calon istri saya. Ketika Weni berkisah bahwa ia sudah punya suami dan itu bukan saya, Si Mbah bertanya soal anak. Ketika Weni bilang belum punya anak, Si Mbah lalu bercerita tentang daun tujuh warna.
Weni hanya tersipu tiap kali ditawari daun itu oleh Si Mbah. Si Mbah orang yang sangat santun. Ia tidak mau membuka harga jika yang diprospek tidak menyatakan tertarik. Nah, Weni menyatakan tidak tertarik.
Ketika Weni Shalat, saya mencoba mengulik informasi dari Si Mbah. Daun itu berharga mnimal Rp100 ribu, beberapa lembar. Tumbuh di dalam makam Sultan Agung, jika kita sudah membayar, penjaga makam akan mengambilkannya di dalam makam.
Lalu direndam ke gentong air di luar makam Sultan Agung, dimasukkan ke dalam plastik kedap air, lalu dibawa pulang. Penggunaannya, pada sore hari daun diperas, airnya ditampung di gelas. Diamkan perasan itu hingga pagi esok harinya. Baru diminum oleh istri dan suami.
Klaim Si Mbah, sudah banyak pasangan suami istri berhasil memiliki anak dengan metode ini. Di luar percaya tidak percaya, Weni berhipotesa, mungkin daun itu mengandung zat-zat tertentu yang memang membuat subur seorang wanita.
Namun yang jelas, bagi kami. Apapun permintaan kita, harta, anak, dan pangkat mestinya ditujukan langsung ke Allah SWT. Bukan lewat perantaraan apapun. Hanya, soal harga daun itu, kata Si Mbah, ”Seikhlasnya tapi minimal Rp100 ribu”. He he, kami tertawa berdua di mobil ketika membahasnya.
Related articles:
Yang Abadi di Imogiri (2): Jimat dengan Lima Fungsi
Yang Abadi di Imogiri
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed



1. » Yang Abadi di Imo&hellip | April 28th, 2009 at 1:05 pm
[...] Yang Abadi di Imogiri (3): Seikhlasnya Tapi Minimal Rp100 Ribu [...]
2. Wong Jalur | April 28th, 2009 at 1:41 pm
Kenapa si Mbah ga’ kira klo Weni itu WIL Bung Aji? He….Pisss.
Btw, mau sampe berapa page nih ceritanya?
3. ajisaka | April 28th, 2009 at 1:51 pm
ada satu lagi, tapi nantilah gak hari ini…weni itu rekan kerja om…anyway, thx ya…
4. nonreni | April 28th, 2009 at 3:11 pm
BANG TOLONG
dipostin makam siapa saja yang ada di Imogiri (yang Utama)
5. ajisaka | April 28th, 2009 at 4:11 pm
siap bu, bentar ya
6. Kamalius,ST | April 28th, 2009 at 11:20 pm
seru ceritanya…sy dulu pernah juga mengalami kejadianya. tp waktu kami berdua, disungguhkan kayu dan dimasukan ke air, jika tdk tenggelam berarti ada mujizat…kebetulan saya mendapat itu…saya ambil…dan tdk ada dana yg saya keluarkan. sebab sy tdk percaya hal seperti ini..
7. mutiara | April 29th, 2009 at 4:24 pm
Seikhlasnya tapi maksa
Berarti bukan seikhlasnya. Tapi tarif bawa
8. aa' | April 30th, 2009 at 3:21 pm
weleh….
masih ada aja yang percaya klenik……….
musyrik lagi………….