Yang Abadi di Imogiri

April 27th, 2009

sultan-agung-tomb

Jika waktu adalah abadi, Imogiri juga. Abadi sebagai penjaga budaya Islam-Jawa hasil akulturasi budaya Hindu dan Islam di masa awal Islam masuk Nusantara.

Shalat Dzuhur di kompleks makam raja-raja Mataram Imogiri, DIY memberi makna baru, kentalnya akulturasi budaya masa awal Islam di Nusantara. Jangan kaget dan jangan sesak napas jika nafas doa dalam Shalat kita bercampur aroma hio dan kemenyan.

Wisata religi ke Imogiri tak jauh berbeda dengan wisata ziarah ke makam Wali Songo, dianggap mampu memberi berkah. Entah berkah harta, jodoh, keselamatan, pangkat, dan kesehatan, pokoknya berkah.

Bersama Mbah Wiro, mantan Romusha di jaman penjajahan Jepang yang kini berbakti memandu wisata di Imogiri, bukan berkah harta yang didapat. Local wisdom yang berabad tetanam di sana, tidak bisa diganggu gugat, dan harus dihormati. Betapapun tidak setujunya Anda kepada Wisdom itu.

Bukan Ngalap Berkah

“Anu, bangun goa-goa di Kalimantan”, jawab Mbah Wiro ketika ditanya apa saja tugasnya selama menjadi Romusha.

Mungkin karena itulah, di usia 88 tahun, ia masih mampu naik turun “empat ratus lebih sembilan”, anak tangga ke pemakaman Raja-Raja Keturunan Mataram, Imogiri, Yogyakarta. Mbah Wiro paling kuat dua kali naik turun anak tangga tersebut dalam sehari. ”Iki dadaku ndak kuat”, terang Mbah sambil memegang dadanya.

Bersama Mbah Wiro, saya, Weni, dan Pak Tri menaiki 409 anak tangga pemakaman Imogiri. Ngalap berkah? Bukan, ini hanya kunjungan wisata. Imogiri, bagi saya lebih menarik dikunjungi ketimbang pantai Parangtritis atau dataran tinggi Kaliurang. Semuanya adalah beberapa pilihan wisata di Provinsi DIY.

tomb-ruleAwalnya adalah saran pedagang softdrink di halaman luar Kraton Yogyakarta. “Bisa ngalap berkah Mas”, simpul si pedagang tentang Imogiri. Sebelumnya saya bertanya, lebih baik berwisata kemana hari ini setelah dari Kraton?

Mbah Wiro yang Pelupa

Tak salah saya memilih Mbah Wiro sebagai pemandu kami di Imogiri. Pak Tri, driver mobil sewaan yang mengantarkan kami sempat mengingatkan saya, “Yakin Pak, nanti kenapa-napa loh udah sepuh sekali itu. Kalau ada apa-apa, Bapak tanggung jawab ya?”.

Pertimbangan saya, dengan pemandu sesepuh Mbah Wiro, cerita yang didapat akan lebih menarik. Setidaknya ada unsur human interest, apalagi jika disinggung sedikit sejarah hidup Si Mbah.

mbah-wiro1Dan benar dugaan saya, si Mbah ternyata bekas Romusha selama delapan tahun. Mengaku sering disiksa tentara Jepang ketika membangun goa-goa di Kalimantan. Selesai menjadi Romusha, Mbah kembali ke Imogiri membuka usaha batik tulis.

Mbah tidak mampu mengingat pasti tahun-tahun dalam hidupnya. Termasuk sejak kapan ia memandu wisata di Imogiri. Namun beberapa angka penting dalam hidupnya ia ingat. Anaknya dua, perempuan semua. Tentunya sudah menikah, punya anak yang telah beranak pinak. Mbah mengingat cicitnya ada 8 orang.

Meski sudah berumur 88 tahun, Mbah tidak betah tinggal di rumah. Istrinya yang tinggal di rumah. Si Mbok ini ternyata lebih tua dari Si Mbah, 90 tahun umurnya! Dahsyat.

Karena sudah sepuh, wajar jika Mbah pelupa. Berulangkali ia mengeluh merasa tidak nyaman tidak memakai blankon. Ia lantas bertanya kepada kami di mana blankonnya. Hehehe, setahu kami ia tidak memakai blankon sejak bertemu di pelataran parkir. Kami pun hanya tersenyum. ”Maklum sudah sepuh”, simpul Pak Tri.

Bersambung ke:

Yang Abadi di Imogiri (2): Jimat dengan Lima Fungsi

Yang Abadi di Imogiri (3): Seikhlasnya Tapi Minimal Rp100 Ribu

Entry Filed under: ajisaka, lain-lain

5 Comments Add your own

  • 1. nonreni  |  April 27th, 2009 at 5:34 pm

    Sungkem dumateng Panjenenganipun Eyang Sultan Agung

  • 2. Wong Jalur  |  April 27th, 2009 at 6:15 pm

    Jadi pengen wisata ke sna juga. Menurutku juga ni wisata yang menarik ketimbang jalan2 ke Mall atau tempat rekreasi sekalipun. Bnyak manfaat yg bisa diambil.

  • 3. » Yang Abadi di Imo&hellip  |  April 28th, 2009 at 12:40 pm

    [...] Yang Abadi di Imogiri [...]

  • 4. » Yang Abadi di Imo&hellip  |  April 28th, 2009 at 12:48 pm

    [...] Related articles: Yang Abadi di Imogiri (2): Jimat dengan Lima Fungsi Yang Abadi di Imogiri [...]

  • 5. Triatmono  |  April 30th, 2009 at 1:03 pm

    Waagh jadi kangen neh… pengen nyekar lageee… !!!
    Biasanya kalau nyekar… gue nggak lewat tangga… lewat jalan satunya lagi… mobil bisa naik ke atas… !!! :D

Leave a Comment

Required

Required, hidden

kalkun

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

Categories

Recent Posts

Links

Indonesian Muslim Blogger

Tags

Meta