Yang Abadi di Imogiri (2): Jimat dengan Lima Fungsi
April 27th, 2009
”Kalau Mas Aji orang Jawa, bisa mengerti, malah ikutan percaya”, kata Pak Tri di mobil sebelum kami meninggalkan Imogiri.
”Sri Baduga Sultan agung Prabu Hanyokrokusomu sebetulnya ada peninggalan benda namanya jimat. Bukan batu bukan kayu. Berguna untuk lima macem, pertama bikin keselamatan di rumah, supaya iso naik pangkat. Kedua untuk berdagang supaya lancar. Keempat kalau bapak ibu pergi jauh-jauh, simpan di dompet, Insyallah tidak ada halangan apa-apa. Kelima, untuk keluarga yang sakit”, terang Mbah Wiro.
Sesampainya kami di depan gerbang makam, di ujung anak tangga (undakan) ke 409, Mbah Wiro mengajak kami duduk di saung penjagaan Kesultanan Yogyakarta. Mbah Wiro mulai menerangkan serba serbi makam Imogiri. Duduknya kami harus menghadap gerbang makam Sultan Agung. Mbah Wiro pun, di sela-sela berkisah, mengucap “Bismillah” sambil menyembah ke arah makam Sultan Agung.
Di sinilah, Si Mbah bercerita tentang Jimat tersebut. Agak sulit memahami bahasa dan lafal Si Mbah. Pertama, ia tidak fasih berbahasa Indonesia, kedua, lafalnya tidak sempurna. Mungkin karena terlalu sepuh. Namun, saya menangkap apa yang dimaksud, ya itu tadi, Si Mbah menawarkan jimat kepada saya.

Terbukti, ketika saya menyatakan tertarik. Yang awalnya saya kira mau diajak masuk ke makam Sultan Agung, ternyata Si Mbah mengajak ke ruangan khusus untuk melihat jimat tersebut. Eit tunggu dulu, “Saya harus bayar Mbah? Tanya saya beberapa kali karena ternyata Si Mbah sulit mengerti bahasa Indonesia juga.
Si Mbah mengatakan, ada tiga harga untuk jimat tersebut. Mulai dari Rp80 ribu, Rp100, dan Rp120 ribu. Saya tanya, apa bedanya tiga harga tersebut. Berharap, makin mahal, kesaktiannya makin tinggi. Ternyata, tidak ada bedanya. Dalam bahasa saya sendiri, kurang lebih begini jawaban Si Mbah: “Tergantung keikhlasannya, jimatnya sama saja. Bisa bayarnya Rp80, 100, atau 120 ribu. Kalau tidak percaya dan ikhlas tidak akan berguna jimatnya”.
Jimat kayu tersebut, kata Si Mbah harus dites dulu kesaktiannya. Kita bisa mengajukan permohonan apa saja di depan jimat tersebut. Jimat ditaruh di atas air dalam baskom. “Kalau terapung diijinkeun kalau tidak belum”, jelas Si Mbah.
Ups, tampaknya saya tidak percaya dan karenanya tidak mau membuka dompet untuk membeli jimat itu.
Related articles:
Yang Abadi di Imogiri (3): Seikhlasnya Tapi Minimal Rp 100 Ribu
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed



1. » Yang Abadi di Imo&hellip | April 27th, 2009 at 5:37 pm
[...] Yang Abadi di Imogiri (2): Jimat dengan Lima Fungsi [...]
2. Wong Jalur | April 27th, 2009 at 6:19 pm
Kayaknya harus ada kelanjutannya, belum selesai ni cerita. Di tunggu bung Aji.
3. » Yang Abadi di Imo&hellip | April 28th, 2009 at 12:36 pm
[...] articles: Yang Abadi di Imogiri (2): Jimat dengan Lima Fungsi Yang Abadi di [...]