Bayi Air Suka Air
July 7th, 2008
Bayi air suka air. Di manapun ada suara air, Ksatria Pertama melongok-longok, tengok sana sini mencari sumber suara.
Hari sebelumnya, satu Sabtu di awal bulan, Ksatria tergelak hebat ketika dua kaki mungilnya dicelup ke air di kolam renang dan arena bermain Marcopolo, Bukit Cimanggu Villa, Bogor. Dari laporan neneknya didapat kabar, Ksatria senang sekali bersentuhan dengan air, kakinya coba melangkah dan tangannya menggapai-gapai. Tak lupa raut wajah serius dengan mulut dibentuk U, mengeluarkan suara ‘uuu…uuu’. Tawanya meledak ketika digoda Dewa, kakak sepupu yang sagat menyayanginya.
Gelak tawa bayi berumur lima bulan jalan ini kontan mengundang perhatian orang di sekitar.
Kemarin, hari Minggu pertama di bulan Juli, Ksatria lagi-lagi tergelak. Kini ia tidak dicelupkan kakinya ke air kolam, hanya digoyang-goyang seolah hendak dilempar ke arah air mancur di tengah kolam.
Ketika sudah lelah, Ksatria tidur di atas rumput, tentu saja dialasi plastik dan perlak. Lelap sekali sehabis minum susu. Angin pun semilir mengusik kupingnya yang mungil. Tapi, Ksatria tidak terganggu, tetap lelap dalam tidurnya siang itu.
Ksatria kembali tergelak ketika digoda ibunya. Duduk di bangku beton di pinggir jalan, tawanya kembali mengundang perhatian orang yang lewat.
Tiket Seharga Rp9500
Hari itu kami berwisata ke Kebun Raya Bogor (KRB). Wisata ke sini termasuk murah meriah, untuk masuk, orang dewasa maupun anak kecil, bukan bayi dikenakan biaya tiket Rp9500. Kemarin kami hanya harus membayar Rp 19.000 untuk masuk ke sana.
Cukup melegakan dan menyenangkan, kehijauan kebun dan suara burung yang masih bebas beterbangan membawa kita pada suasana yang amat berbeda dengan keseharian di perjalanan ke tempat kerja maupun di dalam kantor.
Meskipun, sampah di mana-mana cukup mengganggu. Dan hingga sore menjelang tutup pun, kami hanya melihat mobil pick up pengangkut sampah berkeliling mengambil sampah yang terkumpul di tong sampah. Tak ada petugas sampah yang memunguti sampah berserakan. Padahal, sampah berserakan justru lebih merusak pemandangan daripada yang di tong sampah.
Namun, yang lebih mengusik adalah, mengapa untuk berlibur di kebun atau taman saja orang Indonesia harus membayar. Tidak ada taman kota dengan fasilitas seperti KBR di kota hijau seperti Bogor sekalipun, apalagi Jakarta. Padahal, di luar negeri, terutama negara maju, fasilitas taman kota yang indah dan nyaman ini selalu ada di tiap kota.
Entry Filed under: ksatria pertama





Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed