Ketika Cahaya Islam Menerpa Kartini

April 8th, 2008

Ide emansipasi itu sejatinya datang dari Al Quran. Kartini membaca, memahami, dan mengejawantahkannya.

Door Duisternis Tot Licht terbit pada 1911. Disusun oleh sahabat RA. Kartini oleh JH Abendanon, buku ini sempat menggemparkan dunia pemikiran bumiputera terdidik maupun orang Belanda di Nusantara saat itu. Namun orang kebanyakan, pun kaum bumiputera terdidik di strata menengah masih asing dengan pemikiran istri keempat Bupati Rembang itu.

Baru atas jasa ”Empat Saudara” yang kemudian orang kini lebih mengenal salah satunya, sastrawan Pujangga Baru Armijn Pane. Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan ke bahasa Melayu pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran dan diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Tahun-tahun berikutnya terjemahan bahasa Melayu ini dicetak 11 kali. Makin populer, Balai Pustaka menerbitkan lagi pada 1938 dengan format yang berbeda dengan buku aslinya ketika masih berbahasa Belanda. Dalam format baru yang kemudian dikenal hingga kini tersebut surat-surat Kartini diklasifikasi dan dialurkan hingga mirip sebuah roman kehidupan seorang perempuan Jawa di masa feodal dan kolonial.

”Roman” Habis Gelap Terbitlah Terang racikan Armijn Pane ini memang memudahkan orang di masa setelah Kartini memahami buah pikirannya, bahkan sampai tergugah. Lalu, terbitlah emansipasi di mana-mana. Tidak hanya aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan yayasan perempuan yang tak pernah lupa menggunakan kata ”emansipasi”, pejabat pun baik yang berkelamin laki-laki atau perempuan ramai mengumbar ’emansipasi’, apalagi ketika bulan April datang. Di sekolah semangat ’emansipasi’ dilagukan dalam ”Ibu kita kartini putri sejati, putri Indonesia…ibu kita Kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya…”.

Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur

Kartini adalah inspirasi, sastrawan Pramoedya Ananta Toer menganggapnya lebih dari sekadar pahlawan. Tapi Pram juga mengiyakan jika Kartini, sehebat apapun pemikirannya adalah seorang perempuan biasa, maka terbitlah buku yang mengulas Kartini dari guratan tangannya, Panggil Aku Kartini Saja.

Sebagai perempuan Jawa biasa, Kartini juga menjadi Islam sejak lahir, karena orang tunya beragama Islam. Sebagai muslimah, Kartini belajar mengaji. Di satu ayat Al Baqarah 257, ia menemukan kalimat Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur. Inilah tonggak perubahan kedua dalam hidup Kartini. Terjemahan ayat itu adalah: ”Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Itulah, yang oleh pelbagai ulama disebut salah satu inti dasar dakwah Islam: membawa manusia dari situasi tidak berhidayah menjadi berhidayah. Soal migrasi dari kegelapan ke cahaya itulah yang menjadi saripati surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Belandanya. Sering disebutkan dalam surat-suratnya, frase “Dari Gelap Kepada Cahaya” Oleh Abendanon frase ini diterjemhakan ke bahasa Belanda menjadi Door Duisternis Tot Licht. Oleh rasa sastrawi Armijn Pane, Door Duisternis Tot Licht dan “Dari Gelap Kepada Cahaya” diolah menjadi ”Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Spiritualitas Kartini

Tentang Kartini dan surat-suratnya sudah banyak yang mengulas. Sharing mencatat setidaknya ada enam buku diterbitkan baik yang berisi kumpulan surat-suratnya, maupun ulasan pakar dari pelbagai sumber. Di pelbagai situs dan mailing list (milis) Islam dapat ditemukan banyak tulisan mengenai spiritualitas Kartini. Meski berbeda-beda penulisnya, bisa dilihat kesamaan, Kartini mendapat hidayah setelah memahami surat Al Baqarah ayat 257 di atas.

Dilihat dari leluhurnya, Kartini memiliki garis keturunan ayah maupun ibu yang kuat memegang ajaran Islam. Nenek Kartini dari pihak ibunya, Nyai Siti Aminah, konon pada usia 16 tahun telah melaksanakan ibadah haji. Kakek dari pihak ibunya, Kiai Modirono adalah seorang guru agama, ulama terkenal dan memimpin pesantren.

Namun sebagai perempuan ningrat cerdas, Kartini tidak menerima begitu saja keberagamaannya (taken for granted). Di masa remaja ia sempat menggugat guru ngajinya karena disuruh menghapal isi Al Quran.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902].

Memperoleh Hidayah

Tapi, mindset Kartini berubah ketika ikut mengaji di rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, seorang Bupati di Demak. Saat itu, Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, atau Kyai Sholeh Darat, ulama tenar dari Semarang mengajarkan tafsir surat Al-Fatihah, inti dari Al Quran. Kartini tertarik dan memberanikan diri menemui sang Kyai untuk berdialog.

Kepada Kyai ini Kartini mencurahkan isi hatinya, terutama yang berkaitan dengan agama. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat yang menuliskan penggalan dialog antara Kartini dan kakeknya.

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Sang Kyai yang banyak berdakwah di pesisir Utara Jawa itupun tergugah dan memutuskan untuk menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa. Sayang, ia hanya sempat menerjemahkan 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.

Sang Kyai pun memberikan terjemahan itu kepada Kartini sebagai hadiah pernikahannya. Dari sinilah Kartini mulai mempelajari Islam dengan sepenuh hati. Sayang, tak lama kemudian, pada 18 Desember 1903, Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, pun dengan Kartini tak lama kemudian di usia 25 tahun.

Banyak kalangan berpendapat, andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan Al Quran, mungkin isi surat-suratnya akan berbeda. Namun 13 Juz itu cukup menjawab kekritisan Kartini terhadap pengajaran agama Islam yang dialaminya semasa remaja. Setelah memahami, meski baru 13 juz Al Quran, Kartini sudah berani menginsipirasi perempuan Jawa saat itu untuk berupaya untuk mendapatkan rahmat Allah.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai“ [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Untuk itu, Kartini merasa pendidikan untuk perempuan adalah salah satu cara agar perempuan Jawa dapat bekerja membuat umat agama lain memandang Islam patut disukai. Di bagian surat inilah ”emansipasi” seperti mendapat energi. Bahkan menunjukkan pemahaman emansipasi modern yang tentunya bukan sekadar, perempuan ingin mengalahkan laki-laki.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. “ [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]. (Dari berbagai sumber) IA

Entry Filed under: ajisaka

3 Comments Add your own

  • 1. latree  |  April 8th, 2008 at 7:10 pm

    sayangnya banyak yang menyalahtafsirkan ‘emansipasi’ dengan menuntut segalanya harus boleh sama dengan laki-laki. ini menyedihkan… saya rasa bukan itu maksud Kartini…

  • 2. azimuth  |  April 21st, 2008 at 6:59 am

    saya minta ya artikelnya, utk ditempel di mading, terimakasih

  • 3. Eriana  |  November 4th, 2008 at 8:27 am

    terima kasih atas tulisannya.
    Sangat bermanfaat.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

tikus

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

Categories

Recent Posts

Links

Indonesian Muslim Blogger

Tags

Meta